100 Puisi Terbaik Jalaluddin Rumi

100 Puisi Terbaik Syaikh Jalaluddin Rumi

Kumpulan Puisi-Puisi / Sajak-Sajak Terbaik Jalaluddin Rumi

Assalamualaikum sahabat pecinta Syaikh Jalaluddin Rumi yang mungkin sedang kangen untuk membaca Karya-Karya Besar beliau, berikut ini Puisi.ID postingkan 100 puisi-puisi terbaik Syaikh Jalaluddin Rumi. Selamat membaca :

 

Hanya Budak-Nya yang Merdeka

 

Laut takkan membiarkan penghuninya mentas,

tak pula membiarkan penghuni daratan

masuk ke dalamnya.

 

Air adalah rumah bagi ikan,

binatang berbobot menapaki muka bumi:

Tak ada siasat atau kiat bisa mengubah

pengaturan ini.

 

Ketetapan Ilahiah mengunci begitu kuatnya,

dan satu-satunya pembuka adalah Rabb:

Melekatlah kepada penyerahan-diri dan ketundukan

terhadap kehendak Rabb.

 

Walaupun anak-kunci dibentuk dengan benar,

atom demi atomnya, tiada kunci yang bisa dibuka

kecuali oleh Rahmat Ilahiah.

 

Ketika kau lupakan akal-akalanmu sendiri,

kebahagian akan datang padamu

dari terpandunya engkau.

 

Ketika engkau lupakan dirimu sendiri,

engkau akan diingat oleh-Nya.

 

Ketika engkau telah menjadi budak-Nya,

barulah engkau merdeka.

 

 

RumiMatsnavi III 3071 – 3076

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

 

 

Matilah Sebelum Engkau Mati

 

[Mengenai sabda Rasulullah SAW, ‘Matilah sebelum engkau mati:’ “Wahai sahabat, matilah sebelum engkau mati, jika yang paling engkau kehendaki adalah hidup; karena dengan mati seperti itu Idris a.s. menjadi seorang penghuni al-Jannah terlebih dahulu daripada kita semua.”]

 

Engkau telah banyak menderita, tetapi engkau masih tetap terhijab, karena kematian itu suatu pokok yang mendasar, dan engkau belum mencapainya.

Deritamu takkan berakhir sampai engkau mati: engkau tidak dapat menjangkau atap tanpa menyelesaikan tangga panjatan.

Walau hanya tersisa dua buah, dari seratus anak-tangga, sang pemanjat yang telah keras berjuang, tetap saja terhalang dari menjejakkan kaki di atas atap.

Walau tambang hanya kurang satu dari seratus depa, bagaimanakah caranya air-sumur masuk ke dalam timba.

Wahai pejalan, takkan pernah engkau mengalami kehancuran kapal keberadaan-diri ini, sampai engkau meletakkan pemberat terakhir.

Ketahuilah, pemberat terakhir itu sangatlah pokok, ia bagaikan bintang yang menembus, yang muncul pada malam hari: ia menghancurkan kapal yang penuh ide-jahat dan kesalahan ini.

Kapal bangga-diri ini, ketika ia sepenuhnya hancur, menjadi matahari di tengah lengkung biru al-Jannah.

Selama engkau belum mati, deritamu akan terus berkepanjangan: engkau akan dipadamkan manakala fajar merekah, wahai lilin dari Thiraz!

Ketahuilah, Matahari dari alam ini tetap tersembunyi sampai bintang-bintang kita tertutup.

Gunakanlah tongkat itu kepada dirimu-sendiri: hancurkanlah cinta-dirimu, karena mata jasmaniah ini bagaikan sumbat pada pendengaranmu.

Engkau tengah menggunakan tongkat itu kepada dirimu-sendiri; wahai manusia rendah: cinta-diri ini adalah bayangan dari dirimu-sendiri, dalam cermin dari tindakan-tindakan-Ku.

Engkau telah melihat bayangan dari dirimu-sendiri dalam cermin dari bentuk-Ku, dan telah meradang, ingin menempur dirimu-sendiri,

Bagaikan singa yang terjun ke dalam sumur; karena menyangka bayangan dirinya-sendiri adalah musuhnya.

Tidak diragukan lagi, ketiadaan (‘adam) adalah lawan dari keberadaan (wujud), maksudnya adalah agar dari lawannya ini, engkau memperoleh sedikit pengetahuan tentang yang sebaliknya.

Pada saat ini tidak ada sarana, yang menyebabkan diketahuinya Tuhan, kecuali dengan penyangkalan kebalikan: dalam kehidupan kini, tiada saat yang tanpa jebakan.

Wahai pemilik kesejatian, jika engkau menginginkan ketersingkapan-hijab al-Haqq, pilihlah kematian dan robeklah hijab.

Bukanlah ini kematian, yang kemudian membawamu ke dalam kubur, melainkan suatu kematian berupa transformasi jiwa, sehingga ia akan membawamu ke dalam suatu Cahaya.

Ketika seseorang beranjak dewasa, masa kanak-kanaknya mati; ketika dia tumbuh putih seperti orang Yunani, ia menanggalkan celupan hitamnya, yang bagaikan orang Afrika.

Ketika bumi menjadi emas, tiada tertinggal unsur kebumiannya; ketika sedih menjadi gembira, duri kesedihan tiada tersisa.

Karenanya, Sang Mustafa bersabda: “Wahai pencari rahasia-rahasia, jika engkau hendak melihat orang mati yang hidup,

Yang berjalan-jalan di atas bumi, seperti orang yang masih hidup, namun dia telah mati dan jiwanya telah pergi ke al-Jannah;

Orang yang jiwanya memiliki tempat-tinggal yang tinggi, saat ini, ketika ajalnya tiba, tidaklah jiwanya dipindahkan.

Karena dia telah dipindahkan sebelum mati: rahasia ini hanya dimengerti dengan mengalami kematian, bukannya dengan menggunakan nalar seseorang;

Tetaplah itu sebuah pemindahan, tetapi tidak sama dengan pemindahan jiwa-jiwa dari mereka yang rendah: itu mirip dengan suatu perpindahan dalam hidup ini, dari suatu tempat ke tempat lain.

Jika ada yang ingin melihat seseorang yang telah mati, tapi masih tampak berjalan di bumi,

Biarkanlah dia memperhatikan Abu Bakar,  sang shalih, yang dengan menjadi seorang saksi yang shiddiq, menjadi Pangeran Kebangkitan.

Dalam hidup kebumian kini, tataplah sang shiddiq, sehingga lebih yakin lagi engkau percaya kepada Kebangkitan.

Karena itulah, Muhammad merupakan seratus kebangkitan jiwa, di sini dan kini; sebab terlarutkan dia dalam kematian, dari kehilangan dan keterikatan sementara.

Ahmad itu lahir dua-kali di alam ini: dia memanifestasi dalam seratus kebangkitan.

Mereka bertanya kepadanya mengenai Kebangkitan: “Wahai (engkau yang adalah) Sang Kebangkitan, berapa jauhkah jalan menuju Kebangkitan?”

Dan sering dia akan berkata, dengan kefasihan bisu: “Adakah seseorang menanyakan (kepadaku, yang adalah) Sang Kebangkitan, mengenai Kebangkitan?”

Oleh karenanya, Sang Rasul yang membawa kabar-kabar gembira berkata, dengan penuh-makna: “Matilah sebelum engkau mati, wahai jiwa-jiwa mulia, Seperti aku telah mati sebelum mati, dan membawa dari Sana, kemasyhuran dan keterkenalan ini.”

Sebab itu, jadilah kebangkitan, dan, dengan demikian, lihatlah kebangkitan: menjadi kebangkitan adalah syarat yang diperlukan agar dapat melihat segala sesuatu sebagaimana adanya.

Sampai engkau menjadi hal itu, tidaklah akan engkau ketahui dengan sempurna, apakah hal itu terang atau gelap.

Jika engkau menjadi ‘Aql, engkau akan mengetahui ‘Aql dengan sempurna; jika engkau menjadi Cinta, akan engkau ketahui nyala sumbu Cinta.

Akan aku nyatakan dengan jelas bukti dari pernyataan ini, jika ada pengertian yang tepat untuk menerimanya.

Buah-ara mudah diperoleh di sekitar sini, jika ada burung pemakan buah-ara yang mau bertamu.

Semuanya saja, lelaki ataupun perempuan, di seluruh alam, tiada hentinya dalam sekarat, dan tengah mati.

Anggaplah kata-kata mereka sebagai wasiat seorang ayah kepada anaknya, yang disampaikan pada saat seperti itu.

Sehingga dengan demikian, semoga tumbuh di hatimu pertimbangan dan belas-kasih, supaya akar kebencian, kecemburuan dan permusuhan dapat tercabut.

Pandanglah sesamamu dengan cara demikian, sehingga terbakarlah hatimu dengan belas-kasih, bagi sekaratnya.

“Semua yang mesti datang, akan datang:” anggaplah dia sudah datang di sini dan kini, anggaplah sahabatmu sedang sekarat dan tengah mati.

Dan jika kehendak-kehendak yang mementingkan diri-sendiri menghalangimu dari pandangan seperti ini, buanglah kehendak seperti ini dari dadamu;

Dan jika engkau tidak-mampu, janganlah terus berdiam-diri dalam keadaan tidak-mampu itu: ketahuilah bersama dengan setiap ketidak-mampuan terdapat Yang-Membuat-tidak-mampu.

Ketidak-mampuan itu adalah sebuah belengu: Dia mengikatmu dengannya, engkau harus membuka matamu untuk menatap Dia yang mengikatkan belengu.

Karenanya, bermohonlah dengan rendah-hati, katakanlah: “Wahai Sang Pemandu kehidupan, sebelumnya aku merdeka, dan kini aku terjatuh dalam keterikatan; gerangan apakah sebabnya?

Telah lebih keras dari sebelumnya, kuinjak-injakan kakiku pada kejahatan, karena Engkaulah Sang Maha Kuasa, dan aku senantiasa berada dalam kerugian.

Selama ini aku tuli kepada seruan-Mu: seraya mengaku-aku diri seorang penghancur berhala, padahal sesungguhnya, aku adalah seorang pembuat berhala.

Apakah lebih pantas bagiku merenungkan tentang karya-karya-Mu atau tentang kematian?

(Tentang kematian): Kematian itu bagaikan musim-gugur, dan Engkau adalah (akar yang merupakan) sumber dari dedaunan.”

Telah bertahun lamanya, kematian ini memukul-mukul genderangnya, (tetapi hanya ketika) telah terlambat telingamu tergerak mendengarkan.

Dalam kesakitannya (manusia yang lalai) menjerit dari kedalaman jiwanya: “Wahai, aku tengah sekarat!”

Apakah baru sekarang ini, Kematian membuatmu sadar akan kehadirannya?

Tenggorokan kematian serak, karena teriakan-teriakannya; genderangnya robek, karena kerasnya pukulan-pukulan yang diterimanya.

Tetapi engkau menghancurkan dirimu-sendiri dalam remeh-temeh: baru kini engkau menangkap rahasia kematian.

RumiMatsnavi III: 4571 – 4601 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

 

 

 

 

Bersama Kami: Ajakan Para Awliyya

 

Walaupun engkau bukan seorang pencari,

ikutilah kami,

ikutlah mencari bersama kami. [1]

 

Walaupun engkau tak tahu bagaimana

caranya menari dan bernyanyi,

tirulah kami,

bersama kami engkau akan menari dan menyanyi. [2]

 

Bahkan seandainya engkau adalah Qarun,

yang paling terkenal diantara hartawan,

ketika engkau jatuh cinta,

engkau akan menjadi seorang fakir. [3]

 

Walaupun engkau seorang sultan,

engkau akan menjadi seorang hamba,

seperti kami.

 

Satu lilin pada pertemuan ini,

lebih bernilai daripada seratus lilin lain,

cahayanya lebih terang.

Apakah engkau masih hidup atau sudah mati,

engkau akan kembali hidup,

bersama kami. [4]

 

Lepaskanlah rantai dari kakimu,

melangkahlah ke taman mawar,

mulailah tersenyum dengan seluruh dirimu,

bagaikan mawar,

seperti kami. [5]

 

Tanggalkanlah duniamu sejenak,

dan perhatikanlah siapa yang hidup qalb-nya.

Lalu lemparkanlah baju mewahmu,

dan tutupilah dirimu dengan baju kehinaan,

seperti kami.

 

Ketika sebutir benih jatuh ke tanah,

ia akan berkecambah, tumbuh,

dan menjadi sebatang pohon;

jika engkau paham simbol-simbol ini,

engkau akan mengikuti kami,

jatuh ke tanah dan bersujud,

bersama kami. [6]

 

Berkata Syamsuddin at-Tabriz,

kepada kelopak mawar qalb,

“Jika sejenak saja mata qalb-mu terbuka,

akan engkau lihat apa-apa yang pantas

dipandang.”

 

Catatan:

[1]  “Awliya,” para Wali; antara lain dirumuskan dalam QS [10]: 62 – 64.  Awliya memandu pencarian al-Haqq, bukan untuk membesarkan pranata dunia.  [2]  “Menari,” “menyanyi,” adalah respon jiwa merdeka kepada ilmu yang baru. “Harta itu harus engkau jaga, sedangkan ilmu itu menjaga dirimu,” (kurang lebih, begitu) kata sayidina Ali k.w. Maksudnya disini, ilmu yang menjaga diri hakiki seorang insan, jiwa-nya. [3]  “Fakir;” para pencari selalu fakir (dalam kebergantungan yang sangat) akan al-Haqqyang Maha Mandiri (al-Ghaniy). Disini Rumi menyandingkannya dengan refleksi cermin (terbalik)-nya di alam-dunia: penguasaan akan harta dunia (Qarun). [4]  “Lilin,” cahaya yang menerangi alam jiwa. [5]  “Rantai,” keduniaan yang menjerat orang. “Mawar,” Akal Sejati; ‘Aql [6]   Terkait “syajarah thayyibah” (QS [14]: 24)

 

 

Rumi, Ghazal, terjemahan ke Bahasa Inggris

oleh Nevit Ergin dan Camille Helminski,

dalam The Rumi Collection.

 

 

 

Hanya Harapan yang Diperbolehkan Mengetuk Pintu

 

 

Di dalam hati mereka, para Nabi bertanya:

“Sampai kapan kami terus menyeru dan menasehati

si fulan dan si fulanah?

 

Sampai kapan kami harus membentuk sepotong besi dingin?

Sampai kapan kami harus terus membisiki

werangka yang kosong ini?”

 

Setiap gerakan makhluk berlangsung karena ketetapan

dan penunjukan Ilahiah: tajamnya gigitan berlangsung

karena panasnya rasa-lapar di perut.

 

Jiwa Pertama mendorong dan jiwa ke dua merespon:

berubahnya bau ikan dimulai dari kepala, bukan dari ekornya.

 

Kenalilah ini, dan tetaplah melesat bagai anak-panah,

karena Allah telah bersabda: “Sampaikanlah;”

tidaklah mungkin menghindar dari melakukannya.

 

Dan tidaklah engkau mengetahui,

engkau itu termasuk golongan yang mana:

karenanya teruslah berjuang selama masih perlu bagimu

memilah siapa sesungguhnya dirimu.

 

Ketika engkau memunggah muatan ke atas sebuah kapal,

engkau melakukannya atas dasar kepercayaan.

 

Sebab engkau tidak tahu termasuk golongan yang mana

dirimu itu—apakah yang kapalnya tenggelam di perjalanan,

ataukah yang selamat.

 

Jika engkau berkata: “Sampai dengan jelas bagiku

aku termasuk yang mana, tidaklah aku bergegas ke kapal

dan berlayar;

 

dalam pelayaran ini aku termasuk yang tenggelam

atau selamat: singkapkan bagiku!

akan termasuk golongan yang mana diriku ini;

 

tidaklah akan kumulai perjalanan ini dengan keraguan

atau dalam harapan kosong seperti orang-orang lain”;

 

Maka tiada pergerakan yang akan engkau lakukan,

karena rahasia dari ke dua kemungkinan itu

masih di ranah tak-Terlihat.

 

Pedagang yang penakut dan rapuh tampak tidak untung

atau merugi sedikitpun dalam usahanya;

 

Padahal, dia mengalami kerugian,

karena pastilah terhindar darinya keberuntungan,

dan dia terhinakan: hanya yang haus akan cahaya

yang akan menemukan terang.

 

Untuk semua soal yang bersandar pada harapan,

agamamu adalah soal yang paling berharga disandarkan,

karena dengannya engkau dapat

memenangkan penyelamatan.

 

Dalam soal ini, tak diizinkan mengetuk pintu dengan coba-coba.

Tidak bisa! Tiada yang diperbolehkan kecuali harapan:

Hanya Allah yang tahu arah yang tepat.

 

Dorongan dari semua upaya perniagaan adalah harapan

dan kemungkinan, walaupun untuk itu leher sang pedagang

sampai setipis jarum karena usaha yang tiada hentinya.

 

Ketika di pagi hari sang pedagang berangkat ke tokonya,

dia bergegas dalam harapan dan kemungkinan

memperoleh suatu penghidupan.

 

Jika engkau tidak memiliki kemungkinan mendapat

suatu penghidupan, mengapakah engkau berangkat

ke tokomu?  Disana terdapat ketakutan akan kekecewaan:

lalu bagaimana engkau bisa begitu yakin?

 

Untuk soal mendapatkan makanan,

bagaimanakah ketakutan akan kekecewaan,

yang telah ditakdirkan sebelumnya,

tidak membuatmu lemah dalam pencarianmu?

 

Engkau akan berkata: “Walaupun takut kecewa

menghadangku, aku akan lebih takut lagi

jika berdiam-diri saja;

 

Ketika aku berupaya harapanku lebih-besar;

jika aku diam-saja, resikoku lebih besar.”

 

Jika memang demikian, wahai manusia berdada-sempit,

lalu mengapa takut-rugi menahan gerak langkahmu

dalam soal agama?

 

Atau, tidakkah engkau melihat, betapa menguntungkannya

perniagaan yang dilakukan dalam pekan-raya ini,

dimana para nabi dan wali bergiat,

 

Dan bagaimana berbagai harta-karun tampak kepada mereka,

dari keberangkatannya ke toko ini, dan bagaimana mereka

mendapatkan untung besar dalam pasar ini?

 

Kepada Ibrahim a.s. api tunduk, bagaikan gelang-kaki;

kepada Musa a.s laut tunduk dan digendongnya dia

di atas pundaknya;

 

Kepada Dawud a.s besi tunduk dan melunak bagai lilin;

kepada Sulaiman a.s angin tunduk bagai budak.

 

Ketika kafilah berulang-alik berangkat dan tiba,

mereka sepenuhnya tersembunyi:

bagaimanakah mereka akan dikenali oleh para ahli-dunia?

 

Mereka memiliki berbagai kuasa di alam langit,

akan tetapi tidak seorang pun melirik kedaulatan mereka,

walau sekejap.

 

Keajaiban mereka,

bahkan diri mereka sendiri,

berada dalam suaka Ilahiah: bahkan para Abdal

tidak mengenal nama mereka.

 

Atau, apakah engkau terhijab dari khazanah Ilahiah

yang memanggilmu untuk datang menghampir?

 

Seluruh semesta ini, di ke enam arahnya, penuh dengan

khazanah-Nya: kemana pun wajahmu menghadap,

wajah-Nya sedang menghadap kepadamu.

 

Ketika seseorang yang dirahmati-Nya mengundangmu

masuk ke dalam api, masuklah dengan segera,

dan jangan bertanya lagi, “Apakah aku akan sakit terbakar?”

 

Catatan:

[1] “Perniagaan” dengan Tuhan,

lihat QS at-Taubah [9]: 111.

 

[2] “Harta-karun” Khazanah Tersembunyi yang terungkap

dengan diutusnya seorang nabi/ wali ke sebuah negeri

(= ‘toko’) di alam-dunia (= ‘pasar’) ini.

 

[3] “Kami berfirman: ‘Hai api menjadi dinginlah,

dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim’ “

(QS Al Anbiyaa’ [21]: 69)

 

[4] “Lalu Kami wahyukan kepada Musa:

‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu’.

Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan

adalah seperti gunung yang besar.”

(QS ASy-Syu’araa [26]: 63)

 

[5] “… dan Kami telah melunakkan besi untuknya.”

(QS Saba [34]: 10)

 

[6] “Dan bagi Sulaiman angin yang sangat kencang

tiupannya yang berhembus bersama ‘amr-nya,

ke negeri yang telah Kami berkati …”

(QS Al Anbiyaa’ [21]: 81)

 

[7] “… diberkati orang-orang di dalam api , dan mereka

yang berada di sekitarnya…”

(QS An Naml [27]: 8 ).

 

 

 

RumiMatsnavi III: 3077 – 3109

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

 

 

Jika tidak Untukmu

 

Jika ada seseorang yang lisannya fasih,

adanya pendengar akan membuatnya tampil.

 

Semangat dan enersi seorang pengajar,

bersumber dari muridnya.

 

Boleh jadi seorang pemetik harpa

menguasai dua-puluh empat macam gaya bermusik,

tapi tanpa seorang pendengar,

alat musiknya berubah jadi beban:

tiada nada mampir ke ingatannya,

sepuluh jarinya jadi kaku.

 

Jika tidak ada yang mendengar pesan

dari Yang tak-Terlihat,

tiada nabi membawa wahyu dari Langit.

 

Dan jika tiada mata melihat karya-karya Rabb,

tak akan langit berputar,

takkan pula bumi tersenyum dalam kesuburannya

yang lembut.

 

“Jika tidak untukmu,” artinya           [1]

seluruh penciptaan itu ditujukan

bagi penglihatan yang memahami

dan bagi dia yang menyaksikan.

 

Catatan:

[1]  Hadits Qudsi: “Jika tidak untukmu (Muhammad)

tidaklah Aku menciptakan segenap semesta.”

 

 

RumiMatsnavi VI: 1656-1661

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir  Helminski

Tercantum dalam Rumi: Jewels of Remembrance,

Threshold Books, 1996

Terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahyá Monastra

 

 

Hanya Engkau

 

Dari seluruh semesta,

hanya Engkau saja yang kupilih,

Apakah Engkau akan membiarkanku

duduk bersedih?

 

Hatiku bagaikan pena,

dalam genggaman tanganmu.

Engkaulah sebab gembiraku,

atau sedihku.

 

Kecuali yang Engkau kehendaki,

apakah yang kumiliki?

Kecuali yang Engkau perlihatkan,

apakah yang kulihat?

 

Engkaulah yang menumbuhkanku:

ketika aku sebatang duri,

ketika aku sekuntum mawar;

ketika aku seharum mawar,

ketika duri-duriku dicabut.

 

Jika Engkau tetapkan aku demikian,

maka demikianlah aku.

Jika Engkau kehendaki aku seperti ini,

maka seperti inilah aku.

 

Di dalam wahana,

tempat engkau mewarnai jiwaku,

siapakah aku?

apakah yang kusukai?

apakah yang kubenci?

 

Engkaulah yang Awal, dan kiranya, Engkau

akan menjadi yang Akhir;

jadikanlah akhirku lebih baik,

daripada awalku.

 

Ketika Engkau tersembunyi,

aku seorang yang kufur;

Ketika Engkau tampak,

aku seorang yang beriman.

 

Tak ada sesuatupun yang kumiliki,

kecuali yang Engkau anugerahkan;

Apakah yang Engkau cari,

dari hati dan wadahku?

 

 

RumiDivan Syamsi Tabriz no 30. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

 

 

 

Tanggalkan Jubah Takabur

 

Tanggalkan takabur dari tubuhmu:

tiada yang pantas dipakai seorang pencari

kecuali pakaian rendah-hati.

 

Ilmu umum bisa didapat dari menghafal,

untuk ketrampilan, tangan bisa dilatih.

 

Jika engkau idamkan kefakiran spiritual,

engkau harus berguru: bukanlah itu soal

ketrampilam lidah atau tanganmu.

 

Jiwa belajar rendah-hati

dari jiwa yang lain;

bukan dari buku atau ucapan.

 

Rahasia-rahasia kefakiran spiritual

memang tersimpan dalam qalb sang pencari;

tapi pengetahuan akan rahasia-rahasia itu

belum lagi dimilikinya.

 

Hal itu masih harus menunggu,

sampai dadanya lapang dan terisi Cahaya:

Allah bersabda, “Bukankah Kami

yang melapangkan dadamu?”; [1]

Karena jika Kami menaruh Cahaya di situ,

tentu Kami pula yang telah lapangkan dadanya.

 

Ketika engkau telah menjadi pancuran-susu,

tak perlu engkau memerah sumber-susu lain.

Pancuran-susu abadi ada dalam dirimu,

mengapa kesana-kemari engkau membawa pasu,

sibuk mencari susu.

 

Engkau bagai danau besar yang tersambung

ke Laut, mestinya engkau malu mencari

air ke kolam.

 

“Bukankah Kami yang melapangkan?”

Jika engkau telah diberi kelapangan,

tak perlu engkau bertingkah bagai peminta-minta.

 

Renungkanlah tentang pelapangan dada,

sehingga tak perlu engkau diperingati

dengan ayat, “Tidakkah engkau lihat…” [2]

Catatan:

[1] QS [94]: 1

[2] QS [51]: 21

 

 

Rumi, Matsnavi V: 1061 – 1072

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson,

juga oleh Camille dan Kabir Helminski,

dalam Rumi: Jewels of Remembrance,

Threshold Books, 1996, yang berdasarkan

terjemahan dari Bahasa Persian oleh Yahya Monastra.

 

 

 

Perbedaan Pendapat Mengenai Bentuk Gajah

 

Disebutnya nama Musa, telah menjadi sebuah rantai

yang membelenggu pikiran para pembacaku,

mereka pikir ini adalah cerita-cerita yang terjadi dahulu kala.

 

Disebutkannya Musa hanya berfungsi sebagai topeng,

tetapi cahaya Musa adalah persoalan mutakhir,

wahai sahabatku.

 

Musa dan Fir’aun itu di dalam dirimu:

engkau mesti mencari pihak-pihak yang berlawanan ini

di dalam dirimu-sendiri.

 

Pembangkitan Musa akan terus berlangsung

sampai Hari Kebangkitan: Cahaya itu tidak berbeda,

walaupun lampunya berlain-lainan.

Lampu dari tanah ini berbeda dengan sumbu itu,

tetapi cahaya mereka tidak berbeda: ia dari Alam Sana.

 

Jika engkau terus memandang kaca lampu,

engkau akan bingung, karena dari kaca

munculah sejumlah keragaman.

 

Tetapi jika pandanganmu tetap kepada Cahaya,

engkau akan terbebas dari keragaman

dan bermacam-macamnya bentuk yang terbatas.

 

Dari tempat yang menjadi obyek pandangan,

wahai engkau yang merupakan hakikat keberadaan,

dari sanalah munculnya perbedaan antara seorang yang

beriman sejati dengan seorang Zoroaster,

dan dengan seorang Yahudi.

 

Seekor gajah ditaruh dalam sebuah ruangan yang gelap:

beberapa orang Hindu membawanya untuk dipamerkan.

 

Banyak orang datang untuk melihatnya,

semuanya masuk ke dalam kegelapan.

 

Karena melihatnya dengan mata tidaklah mungkin,

setiap orang merabanya, di tengah kegelapan,

dengan telapak tangan masing-masing.

 

Orang yang tangannya meraba belalainya berkata:

“Makhluk ini seperti sebuah pipa air.”

 

Bagi orang yang tangannya menyentuh telinganya,

dia tampak seperti sebuah kipas.

 

Orang yang lainnya lagi, yang memegang kakinya,

berkata: “Menurutku bentuk gajah itu seperti sebuah pilar.”

 

Yang lainnya, yang mengusap punggungnya, berkata:

“Sesungguhnya, gajah ini seperti sebuah singgasana.”

 

Demikianlah, ketika seseorang mendengar (penjelasan

mengenai sang gajah), dia memahaminya (hanya) sesuai

dengan bagian yang disentuhnya saja.

 

Berdasarkan (beragamnya) yang menjadi sasaran pandangan,

berbeda-bedalah pernyataan mereka:

satu orang mengatakannya bengkok seperti “dal,”

yang lainnya mengatakan lurus seperti “alif.”

 

Seandainya tangan masing-masing orang memegang lilin,

tiada perbedaan di dalam kata-kata mereka.

 

Pandangan persepsi-inderawi itu hanyalah bagaikan

telapak tangan; tidaklah telapak tangan itu mempunyai

kemampuan untuk meraih keseluruhan gajah.

 

Mata bagi Lautan adalah suatu hal,

sedangkan buih itu suatu hal yang lain lagi:

tinggalkan buih dan lihatlah dengan mata bagi Lautan.

 

Siang-malam, tiada hentinya gerakan arus-buih dari Lautan:

engkau menatap buih, tetapi tidak Lautnya.

Kita bertumbukan satu sama lain, bagaikan perahu:

mata kita gelap, sungguhpun kita berada di air yang jernih.

 

Wahai engkau yang telah tertidur di dalam perahu raga,

engkau telah melihat air,

tetapi lihatlah kepada AIR dari air itu.

 

Air itu memiliki AIR yang menggerakannya:

jiwa itu memiliki RUH yang memanggilnya.

 

Dimanakah Musa dan Isa ketika

Sang Matahari menyiramkan air kepada ladang benih ciptaan?

 

Dimanakah Adam dan Hawa,

ketika Tuhan memasangkan tali kepada busur ini?

 

Lisan ini juga kelu;

lisan yang tidak kelu itu dari Sebelah Sana.

 

Jika dia berbicara dari sumber itu,

kakimu akan gemetar;

tapi jika dia tidak membicarakan itu,

sungguh malang nasibmu!

 

Dan jika dia berbicara dengan memakai ibarat,

wahai anak-muda,

engkau akan terhijab oleh bentuk-bentuk itu.

 

Engkau tertanam ke bumi, bagaikan rumput:

engkau mengangguk-anggukkan kepalamu

sesuai hembusan angin,tanpa kepastian.

 

Tetapi engkau tak memiliki kaki,

yang dapat membuatmu beranjak,

atau cobalah menarik kakimu keluar dari lumpur ini.

 

Bagaimana mungkin engkau menarik kakimu?

Hidupmu itu dari lumpur ini: luar-biasa beratnya

bagi hidup seperti milikmu untuk berjalan.

 

(Tetapi) ketika engkau menerima hidup dari Tuhan,

wahai huruf-berirama, engkau menjadi mandiri dari lumpur ini,

dan akan terangkat.

 

Ketika bayi yang semula menyusui disapih dari perawatnya,

dia menjadi pemakan remah dan beranjak darinya.

 

Bagaikan benih, engkau terikat kepada susu dari bumi:

upayakanlah untuk menyapih dirimu

dengan mencari makanan bagi qalbmu.

 

Minumlah kata-kata Hikmah,

karena ia adalah cahaya yang terhijab,

wahai engkau yang tidak mampu menerima

Cahaya tanpa hijab;

 

Sampai engkau menjadi mampu menerima Cahaya,

wahai Jiwa; sehingga engkau mampu menatap tanpa hijab

kepada sesuatu yang (kini) tersembunyi.

 

Dan jelajahilah langit bagaikan bintang;

atau bahkan berkelanalah tanpa-batas,

bebas dari langit mana pun.

 

Engkaulah yang datang menjadi dari ketiadaan.

Katakanlah, bagaimana caranya engkau menjadi?

Engkau tiba tanpa menyadarinya.

 

Bagaimana caranya engkau datang,

tidaklah engkau mengingatnya,

tetapi akan kami lantunkan sebuah isyarat.

 

Lepaskanlah nalarmu, dan perhatikan!

Tutuplah telingamu, lalu dengarlah!

 

Tidak, takkan kuceritakan padamu,

karena engkau masih mentah:

engkau masih di musim semimu,

belum lagi engkau sampai ke bulan Tamuz.

 

Wahai makhluk mulia,

alam dunia ini bagaikan sebatang pohon,

kita bagaikan buah setengah-matang pada pohon itu.

 

Buah setengah-matang melekat erat ke dahan,

karena selama mereka belum matang,

taklah mereka sesuai bagi istana.

 

Ketika mereka telah matang dan menjadi manis,

sambil menggigit bibirnya,

mereka sekedar menempel saja ke dahan.

 

Ketika mulutnya telah dibuat manis oleh kesentosaan,

kerajaan alam dunia ini menjadi hambar bagi sang Lelaki.

 

Berpegangan erat, dan melekatnya jiwa seseorang

begitu kuatnya adalah tanda ketidak-matangan:

sepanjang engkau itu merupakan embrio,

pekerjaanmu adalah meminum-darah.

 

Banyak hal yang lainnya lagi,

tetapi Ruh al-Quds akan menceritakan kisah itu,

tanpa aku.

 

Tidak,

bahkan engkau akan mengisahkannya ke telingamu sendiri,

tanpa aku, ataupun yang selain dari Aku,

wahai engkau yang seperti Aku.

 

Seperti ketika engkau tertidur,

engkau beranjak dari hadiratmu

kepada hadirat dirimu-sendiri:

 

Engkau mendengar dari dirimu-sendiri,

dan menganggap bahwa seseorang telah menceritakan

kepadamu di dalam mimpi.

 

Wahai sahabat,

engkau bukanlah “engkau” yang tunggal;

tidak, engkau adalah langit dan laut yang dalam.

 

“Engkau”-mu yang perkasa, sembilan-ratus kali lipat,

adalah lautan dan tempat tenggelamnya seratus “engkau.”

 

Sebenarnya,

apakah yang dimaksud dengan istilah jaga dan tidur?

 

Diamlah,

karena Tuhan lah yang lebih tahu apa yang benar.

 

Diamlah,

agar engkau dapat mendengar dari Yang Bersabda,

apa-apa yang tidak akan terdapat dalam pernyataan

atau dalam penjelasan.

 

Diamlah,

agar engkau dapat mendengar dari Matahari,

apa-apa yang tidak tercantum dalam buku

atau dalam pemberian.

 

Diamlah,

agar Jiwa yang berbicara bagimu:

di dalam Bahtera Nuh tinggalkanlah berenang!

 

 

RumiMatsnavi III, 1251 – 1307

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson

 

 

Pukulan dari Langit

 

Ketika sebuah pukulan dari Langit

menghantam dirimu,

bersiap-siaplah,

karena setelah itu

akan kau terima hadiah penghormatan.

 

Karena tak mungkin Sang Raja menamparmu,

tanpa memberimu sebuah mahkota

dan sebuah tahta untuk diduduki.

 

Seluruh alam-dunia hanya senilai

sebelah sayap kutu,

tapi satu tamparan dapat memberimu

ganjaran tak terperi.

 

Cepatlah lepaskan lehermu

dari rantai emas,

yaitu dunia ini,

dan terimalah tamparan dari Rabb.

 

Para nabi telah menerima

pukulan seperti itu di leher mereka,

karenanya, kepala mereka tegak.

 

Karenanya, wahai pencari,

siapkan dirimu,

selalu penuh perhatian:

hadirkan dirimu,

agar Dia temukan engkau di tempatmu.

 

Jika tidak,

Dia akan ambil kembali

hadiah penghormatan itu,

seraya berkata,

“tak Ku-temukan seorangpun disini.”

 

 

RumiMatsnavi VI: 1638 – 1643 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson. Juga diterjemahkan Camille dan Kabir Helminski, dalam Rumi: Jewels of Remembrance, Threshold Books, 1996, sumber berbahasa Persia diterjemahkan oleh Yahya Monastra.

 

 

 

Ketika Diusung Kerandaku

 

Ketika diusung kerandaku di hari kematian,

janganlah menyangka hatiku berada di alam-dunia ini.

 

Janganlah menangisiku, dan menjerit,

“kemalangan,kemalangan!”

Bisa-jadi malah engkau terjatuh kedalam jebakan syaithan:

itu baru kemalangan.

 

Ketika engkau lihat jenazahku, janganlah

engkau berseru, “perpisahan, perpisahan!”

Pertemuan dan penyatuan adalah milikku saat itu.

 

Ketika engkau masukkan aku ke liang lahat, janganlah

engkau ucapkan, “selamat tinggal, selamat tinggal!”

Karena kubur bagiku hanyalah selembar hijab, yang

menyembunyikan pelukan al-Jannah.

 

Setelah diturunkan ke lubang, tataplah kebangkitan;

Tidaklah ditenggelamkan itu menyakiti matahari dan rembulan.

Tampak bagimu ia tenggelam, padahal itu suatu kebangkitan:

Bagimu kubur adalah penjara, padahal itu pembebasan jiwa.

 

Bukankah bibit ditanamkan ke dalam bumi agar ia tumbuh?

Mengapa engkau ragukan harkat bibit insan?

 

Bukankah timba diturunkan, agar ia muncul-kembali:

penuh berisi air? Tidaklah Yusufnya-jiwa itu perlu mengeluhkan sumur.

 

Katupkanlah mulutmu di sisi-sebelah-sini, dan

bukalah di sisi-sebelah-sana,

Karena di semesta-tak-bertempat akan berkumandang

lagu kemenanganmu.

 

 

RumiDivan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 14 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

 

 

Mari Kita Berangkat

 

Wahai para pecinta, bangkitlah!                       [1]

Saatnya kita terbang ke langit,

cukup sudah kita tinggal di alam ini,

saatnya bertolak ke sana.

 

Sungguhpun indah sangat

ke dua taman ini,                                                 [2]

kita lewati saja,

menuju ke Sang Tukang Kebun.

 

Mari teguhkan ruku kita ke arah Laut,          [3]

layaknya arus deras,

mari kita tunggang gelombang,

melaju di permukaan sang Laut.

 

Mari kita berangkat,

dari pemukiman penuh kesedihan ini,            [4]

menuju pesta pernikahan;

mari ubah wajah kita,

dari pucat-pasi,

menjadi segar merona.

 

Hati kita keras berdegup,

gemetar bagai daun dan ranting kecil

yang takut jatuh tercampak;                           [5]

mari mencari suaka

di Wilayah Terlindung.

 

Tak mungkin mengelak dari kesakitan,

selama kita dalam pengungsian,                      [6]

tak mungkin mengelak dari debu,

selama kita tinggal di padang pasir.

 

Bagai burung surgawi bersayap hijau,

dan berparuh tajam,                                          [7]

mari kita jadi pengumpul gula,

bercengkerama di kebun tebu.

 

Terkurung kita oleh bentuk-bentuk,

ciptaan Sang Pencipta tak-berbentuk,

Sudah puas kita dengan semua bentuk ini,

mari menuju Dia yang tanpa padanan.            [8]

 

Bentuk-bentuk ini adalah tanda-tanda

dari Sang Pembentuk tanpa-tanda;

tersembunyi dari pandangan iblis,

mari, kita menuju kepada yang tak-bertanda.

 

Di jalan penuh ujian ini,

Cinta adalah sang pemandu,

menuntun gerak maju kita.

 

Bahkan jika ada seorang raja                             [9]

menawarkan perlindungan,

lebih selamat kita menempuh jalan

dalam jama’ah.

 

Kita bagaikan air yang menetes

dari atap yang bocor,

mari kita memancar dari atap bocor itu

dan mengalir melalui saluran-air.

 

Kita melengkung bagai busur-panah,

karena tali-busur itu

berada di tenggorokan kita sendiri,

ketika kita telah menjadi lurus,

maka kita akan melesat,

bagai anak-panah terlepas dari busurnya.       [10]

 

Meringkuk kita bagai tikus dalam lubang,

gemetar takut pada kucing;

jika kita anak-singa,

tentu kita menghampiri induk-singa.                 [11]

 

Mari berjuang

agar jiwa kita sejernih cermin

yang merindukan bayangan sesosok Jusuf;

mari menghampir kepada keindahan Jusuf

seraya membawa sebuah hadiah.                        [12]

 

Sekarang, mari kita diam,

agar Sang Pemberi Perkataan

yang mengatakan semua ini;

bersama sabda-Nya,

mari kita berangkat.                                              [13]

 

 

Catatan:

[1] Yang diseru disini adalah jiwa (nafs) suci

para pecinta, sebagai warga alam malakut

atau “Langit” (as-sama’i).

 

[2] “Ke dua taman:” ke dua kategori alam ciptaan-Nya,

yang memang sangat indah, yaitu alam lahiriah maupun

alam batiniah (alam yang tak-nampak oleh mata jasmaniah).

 

[3] Tentang “Laut;” Fenomena yang kita dapat indera

kita persepsikan itu bagaikan gelombang laut

yang sampai ke tepi pantai (persepsi) kita.

Gelombang berderu karena tiupan angin (rih) ke

permukaan “Laut”.

“Ruku ke arah Laut,” ketundukan kepada maksud

dari penciptaan yang sampai kepada kita.

 

[4]  “Pemukiman penuh kesedihan:” alam dunia.

 

[5] “Takut” terpisah dari kehendak-Nya, lihat

QS [35]: 28.

 

[6] Selama jiwa berada dalam raga di alam dunia.

 

[7] Mengingatkan pada isi sebuah hadits Rasulullah SAW,

“… arwah para syuhada di sisi Allah pada Hari Kiamat

(berada) dalam rongga burung hijau yang memiliki

sarang-sarang yang bergantungan pada ‘Arsy …”

(Sunan Darimi no 2303, Sunan Tirmidzi no 1565)

 

[8] “… tak dapat Dia dibandingkan dengan sesuatu…”

(QS [42]: 11)

 

[9] Keselamatan bagi para pencari itu ada dalam

penyatuaannya dengan para ahli-taubat. Bukan sembarang

berserikat, karena “kebanyakan dari orang-orang yang

berserikat itu saling menzalimi satu sama lain, kecuali

orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh;

dan amat sedikitlah mereka ini.” (QS[38]: 24)

 

[10] Dengan ibadah, raga dilatih agar menjadi “busur”

yang dapat melontarkan “anak-panah” (jiwa).

 

[11] “Tikus” berburu remah-remah, yaitu

sasaran-sasaran duniawiah. “Singa” memburu

apa yang Allah kehendaki.

 

[12] Menjadi cermin, “berakhlak dengan akhlak Sang

Khalik,” atau “akhlakul-karimah.”

 

[13] Mari bergerak menuju “mati dari diri sendiri,”

dengan cara berlatih lebur-musnah billah.

 

 

RumiDivan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 1713

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry

Termuat dalam Mystical Poems of Rumi 2,

terbitan The University of Chicago Press, 1991

 

 

Perhatikanlah

 

Perhatikanlah,

bagaimana setiap bagian alam berlalu,

dan bagaimana setiap orang tiba

melalui suatu perjalanan. [1]

 

Perhatikanlah,

bagaimana setiap orang,

dalam hasrat akan nafkah hariannya,

tunduk menghormat kepada penguasanya.

 

Perhatikanlah,

bagaimana setiap orang,

jatuh bersujud di kaki matahari,

bagaikan redupnya bintang-bintang,

tunduk pada terangnya sang surya.

 

Perhatikanlah,

bagaimana setiap orang bergegas,

bagaikan arus mencari air,

berlomba-lomba mengalir menuju laut.

 

Perhatikanlah,

bagaimana sebuah jamuan kehormatan,

disiapkan dari dapur Sang Raja,

untuk setiap orang,

sesuai dengan kebutuhannya. [2]

 

Perhatikanlah,

bagaimana kecilnya lautan alam-dunia,

bagi para pencari sejati,

sehingga termuat di cangkir-minum mereka. [3]

 

Perhatikanlah,

mereka yang nafkah hariannya wajah Sang Raja,

tersenyum mereka setiap saat,

merefleksikan keindahan Sang Raja. [4]

 

Perhatikanlah,

dengan pandangan seorang Syamsi Tabriz:

lihatlah sebuah lautan yang lain,

penuh dengan mutiara. [5]

 

Catatan: [1] Setiap makhluk setiap saat dalam siklus

diciptakan-ditiadakan, “setiap saat Dia dalam

kesibukan.” (QS [55]: 29.

 

[2] Menakjubkan bahwa setiap makhluk diketahui

dan dicukupi keperluannya oleh Sang Pencipta.

 

[3] Pengetahuan kesejatian yang diminumkan-Nya

kepada para pecinta-Nya melalui cangkir qalb mereka

jauh lebih berharga daripada alam dunia.

 

[4] Ada pecinta sejati yang tak lagi puas dengan

ciptaan;mereka baru lega ketika mengetahui bahwa

Sang Pencipta berkenan kepada mereka.

 

[5] Ayn al-haqq dari seorang Insan-Kamil,

menatap kepada inti (mutiara) pengetahuan Ilahiah.

 

 

Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal 1910. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J Arberry, dalam Mystical Poems of Rumi 2, University of Chicago Press, 1979. Juga berdasarkan terjemahan Ibrahim Gamard.

 

 

 

 

Tinggalkanlah Kemarahanmu

 

Seorang lelaki menghampiri Isa ibn Maryam,

dan bertanya, “Diantara semua yang tercipta,

apa yang paling berat dipikul?”

 

Beliau a.s menjawab, “yang paling berat adalah

murka Allah; yang kepada hal itu: bukan saja kita,

tapi bahkan neraka pun gemetar.”

 

“Dan apakah perlindungan kepada murka Allah itu?”

Berkata Isa ibn Maryam, “tinggalkanlah segera

kemarahanmu.”

 

 

RumiMatsnavi IV: 113-115.

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson

 

 

 

Sesuai Ciri Masing-masing

Nuh a.s, terus-menerus menyeru umatnya kepada Allah

selama sembilan-ratus tahun;

tetapi, hari demi hari,

penolakan mereka semakin meningkat.

 

Apakah pernah dia menarik kembali seruannya?

Apakah lalu dia berpangku-tangan, menyepi

masuk gua?

 

(Dia a.s. seperti berkata:) “apakah sebuah karavan

tak melanjutkan perjalanan karena gonggongan

dan dengkingan anjing?

 

Pada malam purnama-penuh,

apakah raungan anjing dapat menunda

perjalanan rembulan?”

 

Rembulan memantulkan cahayanya;

anjing menggonggong:

setiap hal berlangsung sesuai dengan

ciri khas masing-masing.

Rumi, Matsnavi V 10 -14. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

 

 

Memandang kedalam Dirimu Sendiri

Ketika syaithan menengok ke sekitarnya,

dan didapatinya ada orang baik,

langsung dia merasa sakit,

karena iri-dengki;

 

Karena setiap yang terkutuk

dan tumpukan kayu bakarnya telah hangus

tak sudi melihat lilin orang lain dinyalakan.

 

Perhatikan dan teruslah

memperbaiki kelemahan dirimu.

Sehingga kebaikan orang lain

tak lagi menyakitimu.

 

Mohonlah agar ditanggalkan-Nya iri-dengkimu,

sehingga dialihkan-Nya engkau

dari memandang keluar diri,

kepada ketekunan didalam dirimu sendiri;

semoga sedemikian rupa engkau terserap,

sehingga perhatianmu tak lagi berpaling.

 

 

Rumi, Matsnavi IV 2678 – 2682 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson

 

 

 

Jalan yang Kau Cari

Jalan yang kau cari? Kau tengah duduk di tepinya. Kau cari rembulan, tapi terbutakan oleh sinarnya. Mengapa mencari keindahan yang bagai wajah Yusuf? Jika kau menjadi Cinta Sejati: engkaulah Yusuf.

(Rubaiyat, F#1714) Penerjemah:  Zara Houshmand, ngrumi

 

 

Keledaimu Tertidur

 

Sedemikian terserap kau pada kehidupan, yang tak berlangsung melainkan hanya sehari.

Sehingga kau tak berkenan dengar pembicaraan tentang kematian.

Kehidupan selalu ingin kembali ke rumahnya, dan rumahnya itu bernama kematian.

Tetapi keledaimu jatuh tertidur di tengah jalan.

(Rumi: Rubaiyat, F#223)

Penerjemah:  Zara Houshmand, ngrumi

 

 

Gusur Semua

 

Gusur dari hatimu kerakusan, cemburu dan kebencian. Juga pikiran buruk dan kemarahan, singkirkan semua. Jangan tunda, berhentilah merugi. Lakukan ini, keberuntunganmu akan melejit.

(Rumi: Rubaiyat, F#1459) Penerjemah:  Zara Houshmand, ngrumi

 

 

Selalu lah Dekat

Jika menjauh dari naungan Sang Kekasih, menderita engkau tertimpa teriknya matahari.

Bagaikan bayangan, selalu lah dekat ke sisi Sang Kekasih.

Sampai bercahaya engkau, bagai rembulan, lalu bagai matahari.

(Rumi: Rubaiyat, F#1674) Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi.

 

 

Ikutilah

Ikutilah orang yang tak minta balasan. Yang tak ingin bertambah kaya, atau takut rugi. Yang sedikit pun tak berminat, bahkan untuk menjaga citranya: dia orang merdeka.

(Rumi: Rubaiyat, F#116) Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi

 

 

Diseru Namaku

Bertahun kucoba kukenali diriku, dengan meniru orang lain. Dari dalam diriku, kutak tahu harus lakukan apa. Tak kulihat siapa, kudengar namaku diseru dari luar. Lalu jiwaku melangkah keluar dari dalam diriku.

(Rumi: Rubaiyat F#77) Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi.

 

 

Rembulan di Puing Hati

Kubertanya, “Wahai rembulan nan cantik, dimanakah rumahmu?” Dia menjawab, “Pada puing-puing hati-mabuk-mu. Aku lah matahari yang menyinari reruntuhanmu. Masih lama kau kan tinggal di padang gurun gersang ini.”

(Rumi: Rubaiyat F#1584) Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi.

 

 

Bahasa yang Berbeda

Kami bicara dengan bahasa lain, bukan lisan ini. Ada rumah yang lain, bukan neraka atau surgamu. Jiwa merdeka dihidupi dari sumber yang lain. Batu mulia murni ditambang dari tempat berbeda.

(Rumi: Rubaiyat, F#403) Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi

 

 

Bersetialah

Wahai para penggenggam rahasia, bersetialah! Jangan lepaskan permainan yang meremukkan hati ini. Walau tampak seperti permainan, tapi apinya sangat nyata. Membinasakan hati para pencinta yang bertahan.

(Rumi: Rubaiyat, F1931) Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi

 

Engkau lah Itu

Jika ada satu ingatanku yang benar dan jernih, tentang Engkau lah itu.

Aku fakir, yang kunilai berharga hanyalah Engkau.

Dari sisi mana pun kuperhatikan, diriku sedikit pun tak berarti.

Hanya satu hal yang jelas: aku sepenuhnya milik-Mu.

(Rumi: Rubaiyat, F#1690) Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi

 

 

Pintu Itu

Ketika teringat kembali pada pintu itu, kurasakan kembali luapan menyesakkan. Takkan mungkin kulupakan Rahmat itu, Ketika Kau kenalkanku kembali pada Khazanah Tersembunyi.

(Rumi: Rubaiyat, F#1693) Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi

 

 

Panen Obat Khusus

 

Yang kupanen dari rasa sakitku adalah obat khusus untukku dan kedamaian.

Ku tenggelam ke titik nadir, lalu dibangkitkan: bagai pulihnya iman dari kekufuran.

Ketika raga, hati dan jiwa terserak-serak, jalan menghilang.

Sampai raga mencair ke dalam hati, hati mencair ke dalam jiwa, dan jiwa ke dalam cinta itu sendiri.

Sumber: Rumi: Rubaiyat, F#262 Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi.

 

 

Cinta-Mu Membuat Samudera Bergejolak

Cinta-Mu membuat samudera bergejolak dalam gemuruh badai.

Awan menjatuhkan mutiara ke hadapan kaki-Mu.

Tiang asap hitam mencuat ke langit: api bernyala meraksasa.

Ketika kilat cinta-Mu menghujam ke bumi.

 

(Rumi: Rubaiyat, F#523) Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi.

 

 

Engkau adalah Jalan Cinta

Engkau adalah Jalan Cinta, dan di ujung sana tampak rumahku.

Engkau salah satu sosok di tengah khalayak tapi hanya Engkau yang memakai mahkota.

Kulihat Engkau pada bintang-bintang, pada matahari, pada rembulan.

Juga disini di padang rumput hijau, dan di seberang sana, di atas tahta.

(Rumi, Rubaiyat F#1369) Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi

 

 

Lupa Asal Semula

Kampung-halamanmu sejatinya di lelangit sana, tetapi kau sendiri berpendapat

Disini lah tempat-tinggalmu, di alam dunia yang tersusun dari debu.

Di atas debu itu, kau coba lukis wajahmu,

Tapi ada satu hal yang lupa kau gambarkan: kampung-halamanmu, rumahmu yang sejati.

 

(Rumi: Rubaiyat, F#1771) Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi.

 

 

Wahai yang Teramat Lembut

Wahai yang teramat Lembut, yang menebarkan benih kesetiaan.

Dan menurunkan hujan kebaikan murni ke atas bumi hitam ini:

Tentulah kau paham belaka keadaanku, dimana pun aku berada.

Jangan lagi kau pernah pisahkan aku dengan Cintaku.

(Rumi: Rubaiyat, F#566) Penerjemah: Zara Housmand, ngrumi

 

 

Hati Seluas Lautan

Sejatinya, hatimu seluas lautan: selami lah kedalamannya, temukan mutiara tersembunyi.

Tapi mulutmu menjerit, bagaikan sebutir kerang:

“Hatiku ini terlalu sempit!”

Hatimu itu sebenarnya mampu menampung seluruh semesta.

Mengapakah kini jadi terlalu sempit bagimu?

Rumi: Rubaiyat, F#31 Diterjemahkan oleh ngrumi. Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star Berdasarkan terjemahan literal oleh Shahram Shiva.

 

 

Kuasa Pikiran

Wahai pencari, pikiran memiliki kuasa atas dirimu: mendadak engkau sedih, mendadak engkau gembira.

Engkau terbakar dalam api. Tapi Aku takkan mengeluarkanmu, sampai engkau matang, sampai engkau bijak, sampai Sang Pribadi Sejatimu tampil.

 

(Rumi: Rubaiyat, F#1923) Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star Berdasarkan terjemahan literal oleh Shahram Shiva. Dari Rumi: In the Arms of the Beloved, hal 89.

 

 

 

Lepaskanlah Pikiranmu

Lepaskan pikiranmu, biarkan jiwamu masuk ke alam khayal.

Pikiran itu hijab, yang menutupi wajah cemerlang sang rembulan.

Qalb yang tersucikan adalah rembulan, disana tak ada tempat bagi pikiran.

Aneka macam pikiranmu, alirkanlah menjauh kembali ke arusnya.

(Rumi: Rubaiyat, F#84) Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Zara Housmand Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh ngrumi.

 

 

Nalar Coba Menguliahi

Majulah nalar, mencoba menguliahi para pencinta.

Bagai penyamun, menyergap di tengah jalan.

Tapi segera disadarinya, tak ada tempat bagi logika di akal para pencinta.

Jadi ia membungkuk menghormat, dan segera berlalu dari hadapan mereka.

(Rumi: Rubaiyat, F#367) Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Zara Houshmand Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngrumi.

 

 

Bukan Seorang Penyair

Aku bukan seorang penyair, tak kuperoleh nafkah,

Dari situ, atau kupamerkan ketrampilanku, bahkan ku tak memikirkan tentang

Seniku, bakatku ini hanyalah sebuah cangkir,

Yang takkan kuteguk, kecuali jika Kekasihku yang menyajikan.

 

(Rumi: Rubaiyat, F#1256) Penerjemah ke Bahasa Inggris oleh Zara Houshmand Penerjemah ke Bahasa Indonesia oleh ngrumi.

 

 

Telah Kau Tanggalkan

Telah Kau tanggalkan dariku, semua tanda dan identitas: sebuah jiwa

Dengan sepasang tangan yang kau buat bertepuk tanpa lagu.

Tiada tempat di semesta ini bagi jiwaku: Kemanakah ku harus pergi?

Kau telah buat aku tak berumah; sebebas jiwa bersayap, merdeka terbang kemana saja.

(Rumi: Rubaiyat, F#1812) Terjemahan oleh: Zara Housmand, ngrumi.

 

Jika tanpa Engkau

Hidup tanpa Engkau adalah sebuah pelanggaran.

Tanpa Engkau, kehidupan macam apa kujalani?

Wahai Cahaya hidupku, setiap kehidupan yang berlalu,

Tanpa Engkau, berarti kematian; Itulah makna hidup bagiku.

(Rumi: Rubaiyat, F#1397) Penerjemah ke Bahasa Inggris oleh Zara Houshmand Penerjemah ke Bahasa Indonesia oleh ngrumi.

 

 

Hijab Mencengangkan

Bagi seorang nabi, alam-dunia ini senantiasa bertasbih dengan memuji asma-Nya; sementara kita menganggapnya dungu tak berarah.

Dalam penglihatannya, alam-dunia ini berlimpah cinta; sementara yang lain berpendapat ia beku dan mati.

Dalam penglihatannya, lembah dan gunung bergerak dengan lembut: di dengarnya percakapan lirih antara tanah dan batu.

Bagi mereka yang bodoh, alam dunia ini seperti benda mati, diam, tak bergerak.

Sungguh tak pernah kudapati suatu hijab membutakan, yang lebih mencengangkan daripada hal ini.

Rumi: Matsnavi  IV: 3532 – 3535 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski dalam Rumi: Jewels of Remembrance, Threshold Books, 1996. Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.

 

 

 

Menanam Jewawut, Berharap Gandum

Kau kerjakan hal-hal buruk tapi berharap ganjaran yang baik.

Amal buruk pantas diganjar dengan balasan yang buruk.

Rabb itu merahmati dan sangat baik hati, tapi sungguhpun begitu

Jika kau tanam jewawut, takkan tumbuh gandum.

(Rumi: Rubaiyat, F#1798) Penerjemah ke Bahasa Inggris oleh Zara Houshmand Penerjemah ke Bahasa Indonesia oleh ngrumi.

 

 

Dan Tetaplah Engkau Sadar

Wahai Sana’i,  [1] Jika tak kau temukan satu pun sahabat, Jadilah sahabat bagi dirimu sendiri.

Di alam dunia ini, tempat dari bermacam manusia dan beragam tugas, jadilah pelaksana dari tugasmu sendiri.

Setiap pengikut dari karavan ini, mencuri perbekalannya sendiri– waspadai dan jagalah bekalmu. [2]

Sebagian besar orang berjual-beli keidahan dan cinta palsu– lewati ke dua sungai kering ini, dan jadikan dirimu sungai yang deras mengalir.

Jika ada kawan yang menarik tanganmu ke arah hal yang tak berarti, segera tarik tanganmu dan jadikan dirimu seorang penolong bagi dirimu sendiri.

Ciptaan-ciptaan yang cantik ini, bagaikan lukisan indah pada kanvas, menghijab aneka keindahan qalb, sibakkan hijab dan masuklah hadirlah bersama Yang Tercinta-mu.

Hadirlah bersama Yang Tercinta, jadilah insan berakal-sejati, naiklah mengatasi ke dua alam, tempatilah semestamu sendiri.

Bertolaklah: jangan terbujuk anggur takabur– tataplah cemerlangnya Wajah itu, dan tetaplah engkau sadar akan (kehambaan) dirimu sendiri.

Catatan: [1] Hakim Sana’i, seorang sufi bijak termasyhur. Saling menasehati diantara para awliya umumnya ditujukan untuk memberi pengajaran kepada murid-murid mereka.
[2] Sadar atau tidak, setiap kita berada dalam karavan menuju kematian. Masing-masing kita, setiap saat mengambil dari jatah bekal kita sendiri; misalnya umur.
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal no 1244 Berdasarkan terjemahan William C. Chittick, pada The Sufi Path of Love, SUNY Press, Albany, 1983.

 

 

 

Rintihan Tawanan Dunia

Mesti berapa lama lagi, kudapati diriku terantai dalam penjara ini, terantai ke dunia ini.

Telah tiba saatnya kuraih kesejatian hidup; dan aku bergerak, berderap, menuju ke kemurnian.

Jika aku bisa tersucikan, dan terbersihkan dari kotoran, seterusnya tiada yang kucari kecuali Dia semata.

Ketika aku diciptakan, telah disediakan untukku semesta dan istana;   [1] sungguh aku ingkar jika kuterima jabatan hanya sebagai seorang penjaga pintu.  [2]

Jika ku berhasil mengubah sikap seperti penjaga pintu ini, jika ku berhasil mengembalikan akalku kepada kesejatiaannya, bahagia kan datang menggantikan kesedihanku.

Wahai qalb: mengingat ini tentang kita berdua semata, tentang warta yang datang padamu di tengah malam: akan kuikuti pesan itu, sebagaimana yang kau pahami.

Jika nanti sayapku telah kembali tumbuh menggantikan kakiku yang lamban, semua halangan kan kulewati: kembali ku akan mengangkasa, kutembus ruang dan waktu.

Catatan: [1] Apa-apa yang disediakan bagi insan bertakwa. [2] Penjaga pintu, maksudnya, ahli dunia, terpenjara ke dunia ini; tak paham dari mana asalnya hal-hal yang ditemuinya di dunia ini, dan lalu kemana mereka pergi setelah meninggalkannya.

 
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 1391 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nader Khalili, dalam Rumi: Fountain of Fire, Cal-Earth Press, 1994.

 

 

 

Yang Bangkit dari Abu Penyatuan

Wahai jiwa, engkau lah burung Phoenix, yang bangkit dari abu penyatuan.

Mengapa tak terbang mengangkasa? — di bumi engkau tak dikenal.

Kau cicipkan rasa-manis ke dalam hati; seraya kau remukkan ribuan hati dengan pesonamu.

Saat ini kau tinggal di dalam raga, tapi ada saat ketika kau lewati lelangit, kau tembus batas-batas semesta.

Apa sulitnya ruh menemuimu? –bukankah engkau sayap dan bulunya.

Mengapa pandangan tak melihatmu? –bukankah engkau sumber penglihatan.

Apa yang akan terjadi pada jiwa tembagamu, ketika sang Ahli Kimia tiba? –bukankah akan diubah jiwamu menjadi emas.

Apa yang akan terjadi pada bibitmu yang kecil ketika tiba musim semi? –bukankah dari sana kan tumbuh pohon menjulang.

Apa yang akan terjadi pada kayu bakar, ketika dimasukkan ke dalam api? –bukankah nyalanya kan menjilat ke langit.

Jangkauan cahaya nalar bagai pendar redup bintang-bintang di kejauhan.

Sementara engkau bagai terang matahari yang menembus, lewati semua hijab.

Dunia ini seperti kabut dan es, sementara engkau bagai musim panas membakar.

Wahai Sang Raja, tiada serpih dunia ini yang tersisa, ketika engkau tiba.

Siapa yang dapat duduk di sisimu, semuanya musnah dengan satu lirikanmu.

Wahai mata yang terberkati, telah kulihat sesuatu yang tak terkhayalkan, tak terjangkau oleh keberuntungan apalagi hanya dengan upaya: pernah kutatap keindahan sempurna wajah Syamsuddin at-Tabriz.

Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal no 3071 dari versi terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star, Rumi – In the Arms of the Beloved Jeremy P. Tarcher/Putnam, New York 1997.

 

Baru 43 Puisi – Puisi Selanjutnya di LINK INI (NextUpdate)*

 

Puisi Lain :

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of