18 Sajak Pendek Mieft Aenzeish

18 Sajak Pendek Mieft Aenzeish

18 Sajak Pendek Mieft Aenzeish

 

“Tidak ada kebaikan pada bibir yang membicarakan keburukan lain orang, sebab itu, diam adalah pilihan terbaik yang dapat menghantarkan diri pada kebahagiaan.”

“Aku berkata pada keheningan, ‘sungguh engkau mengajakku pada keramaian sebenarnya, keramaian jutaan suara yang tak terucap dari sepasang bibir, sebab hanya di hati, semua bisa menyimpan TAKBIR!’.”

“Untukmu sinar pagiku, teruslah menjelma senyum, aku disini senantiasa menjadikanmu keindahan yang ranum, dan jika kemudian ada mendung yang datang, kemarilah, pintu kasihku akan membawamu ke tempat dimana mendung dan hujan tak pernah bisa membuatmu kedinginan.”

“Selamat malam untuk segaris harapan yang belum terwujud, semoga esok kau kurengkuh bersama senyum yang mendetik di bawah sinar pagi melalui manis bibirnya.”

“Kepada senyum yang mengembang dari wangi biru, semoga kebahagiaan kian melaju di lajur nafasmu.”

“Kau menjadikanku kesejatian bagimu, sedang aku, mengukir keabadian di telapak kakimu.”

“Ketika jauh, aku mendekati-Nya, setelah dekat dan memberiku kesenangan, aku berjalan mendekati puja puji manusia.”

“Biarkan aku duduk menikmati taman kedamaian hatiku sendiri, menjauh dari prahara gunjingan politik dan keruhnya kata-kata cemooh.”

“Bukan aku yang memberimu, tapi gusti Allah yang berbuat baik padamu melalui aku.”

“Kepada maghrib yang menyimpan ketenangan, aku sunyikan diri untuk bertemu kebahagiaan.”

“Tidak ada pertolongan yang bisa aku syukuri, jika aku tak mengenal-Mu.”

“Saat sepi mengalun melalui sela-sela waktu, mendengarkan Gamelan adalah pendekatanku kepada alam. Dan alam senantiasa menampakkanku hal-hal yang menakjubkan, salah satunya adalah menampakkan kematian orang-orang yang masih hidup.”

“Setiap tempat mukimnya masyarakat, selalu ada satu orang yang senantiasa berdoa untuk mereka, setiap malam.”

“Jika tak mampu menjadi penolak bala bagi sekitarmu, setidaknya jangan menjadi penyebab datangnya bala.”

“Keindahan mencintai bisa didapat ketika dengan ikhlas mendoakan kebaikan untuk kekasih atau seseorang yang dicintainya.”

“Jika harus sudah, sudahlah sebagaimana dedaun yang merelakan embun jatuh ke bumi atau yang kering karena mentari.”

“Cinta dan Jodoh itu berkejaran, adakalanya cinta yang lebih dulu, dan tak jarang, jodohlah yang lebih dulu datang. Diantara keduanya senantiasa ada wangi yang kau suka dan ada pahit yang tak kau harap. Maka berjalan di jalan sinarNya adalah keberuntungan.”

“Ketika mata tak mampu menyampaikan kerinduan, cukuplah pejam menjadikan mimpi sebagai penawarnya.”

 

17.04.2017

Cimahi